Artikel

Sharing session bersama psikolog : Anak 3 - 5 Tahun

Sharing session bersama psikolog : Anak 3 - 5 Tahun

Seperti biasa, kami selalu memberikan pelatihan pada para tante untuk meng-upgrade ilmu akan pengasuhan dan Pendidikan anak. nah, setelah bulan lalu pelatihan diberikan untuk memahami anak usia 0-2 tahun, kali ini untuk usia 3-5 tahun juga dong.

Di usia yang makin besar ini, tantangan tentunya semakin banyak. Sebab, kebisaan anak pun sudah semakin banyak. Memang lebih seru, karena sudah bisa diajak ngobrol, diajak jalan-jalan dan diajak bikin-bikin, tetapi di usia ini, anak juga sudah bisa memilih, sudah bisa menolak dan dalam pencarian yang luar biasa melelahkan.

Menurut ibu Devi Sani, psikolog dari rainbow castle, ada beberapa poin yang penting diingat dalam memberikan pengasuhan optimal bagi si kecil yang mulai gede ini. Yakni; kognitif dan Bahasa, sosial emosional, fisik dan spiritual tentunya. Untuk fisik, berikut tabel yang dipaparkan ibu Devi.

postimage

Namun tentunya, setiap anak itu unik, jadi kami tetap berusaha menghargai kemampuan serta perbedaan pencapaian mereka. Meski hal tersebut menjadi tolak ukur mendasar untuk penilaian pencapaian tumbuh kembang fisiknya.

Lalu, untuk kemampuan berpikir (kognitif), menurut ibu Devi, ada beberapa ciri khas dan tolak ukur pencapaian si 3-5 tahun, yakni:

• Bermain pura-pura dari kehidupan sehari-hari (ada situasi sosial). Manfaat: meningkatkan kemampuan anak dalam berteman, atensi, daya ingat, bahasa, membaca, berempati

• Belum menguasai konsep konservasi. Konservasi adalah suatu hal akan tetap sama jumlahnya walaupun penampilan luarnya dirubah. Hal ini mempengaruhi emosinya.

• Kecenderungan Egosentrisme. Berbeda dengan egois. Egosentrisme lebih kepada tahap perkembangan normal dan wajar, sedangkan egois itu anak sudah mampu, tapi dia memilih untuk egois.

• Animistik : Benda mati itu punya kualitas kehidupan ,bisa merasa, melihat, punya keinginan, dll

Umumnya ada 2 masalah besar dalam pencapaian kognitif. Yaitu, belum bisa pretend play dan Bahasa belum lancar. Cara mengatasi masalah anak yang belum bisa pretend play sebetulnya tak perlu rumit.

• Material Mainan memadai (rumah boneka, mini figur dari kehidupan nyata)

• Mendampingi anak bermain tanpa mengontrol permainan

• Sediakan mainan dengan fungsi yang jelas (boneka, mobil-mobilan, tea sets)dan fungsi yang tidak jelas (balok, kardus, pasir, lalu berimajinasi menjadikan barang-barang abstrak itu sebagai sesuatu, misal perahu

• Aktivitas di dunia nyata dengan orang dewasa. contoh berkunjung ke pemadam kebakaran, melihat pembuatan sesuatu, dll

• Saat anak berkonflik hindari buru-buru membantu. Tetapi, tanyakan “Apa ya yang bisa kamu lakukan biar kamu dipinjemin mainannya?”. Kalau anak belum bisa jawab, beri jawabanny sedikit, demi sedikit.

Tak jauh berbeda dengan penanganan kemampuan berbahasa yang kurang.

Seringlah melakukan hal-hal berikut:

• Joint Attention : Anak sedang lihat apa, orang dewasa di sekitar ikut menanggapi tentang apa yang ia lihat

• Teknik Refleksi: Membeo ditambah membenarkan kata anak

• Membacakan buku cerita

• Memantapkan bahasa ibu sebelum bahasa lain

Demikian kurang lebih yang kami dapatkan. Tidak semua kami bahas disini, kapan-kapan main yuk ke taman main, nanti kita cerita-cerita soal si kecil yang sedang berusaha mengenal emosi dan mulai menjalani kehidupan sosialnya.

Sampai jumpa lagi!

Baca Juga