Artikel

#CERITABUNDA : Ibu Bekerja, bukan berarti tak bisa mengurus anak

#CERITABUNDA : Ibu Bekerja, bukan berarti tak bisa mengurus anak

Psikolog anak, Elizabeth Santosa sempat memberikan cerita bahwa daycare yang baik; selain mampu memberikan fasilitas dan kurikulum terbaik, juga harus mampu mengajak orangtua untuk bekerjasama

Artinya, daycare juga sebaiknya mampu mempromosikan hubungan emosional antara ayah, ibu dan anak yang kuat. Maka, orang tua bukan menyerahkan anak sepenuhnya pada pengasuhan daycare namun menjadi partner daycare agar tumbuh kembang anak dapat dioptimalkan..

Selain itu, psikolog Elizabeth Santosa juga mengingatkan bahwa, apapun kejadiannya; peran orang tua tidak tergantikan. Caregiver utama bagi setiap anak, adalah orangtuanya. Hal ini sebelumnya juga sudah pernah disampaikan oleh ibu Devi Sani psikolog anak dr @rainbowcastleid

Menurutnya, tante di daycare adalah pengasuh yang bekerjasama dengan orangtua dalam mendidik anaknya. Iya, sebagai guru, bukan berubah menjadi ibu.

Nah, setelah tadi psikolog membahas soal tugas penting orang tua yang tak tergantikan siapapun, kami juga punya ceritanya lho, di taman main. Namanya bunda Andika, biasa dipanggil bubun, oleh putranya, D. Sebagai ibu bekerja, bubun ini selalu punya waktu bagi si kecil kesayangannya. Ya, menurut bunda Andika, menjadi ibu bekerja, bukan berarti tidak punya waktu untuk mengenal anaknya.

“Aku gak sepakat ya dengan stigma ibu bekerja artinya menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada daycare atau pengasuh. Ibu bekerja bukan berarti enggak ngurus anak, lho..” ujarnya. Dirumah, bunda Andika tidak ada helper, ia dan suaminya bahu membahu mengurus rumah, memasak, dan mengurus D.

Lelah, pasti. Di kantor dengan berbagai tekanan pekerjaan, dan dirumah tetap harus mengurus semua keperluan anak. namun, buatnya, itulah tugas mulia seorang ibu. Justru karena itu bunda Andika memilih taman main, karena jaraknya yang sangat dekat dengan rumah. Jadi, ia dan keluarga kecilnya selalu punya quality time, baik di perjalanan maupun dirumah saat pagi dan sebelum tidur. “Daycare itu tempat penitipan anak, sementara aku ibunya. Jadi fungsi daycare adalah sebagai jembatan saat aku bekerja, bukan menggantikan peran ibunya.”

Bekerja, menurut bubun, bukan jalan terbaik namun kadang tidak ada pilihan. Karena itu, menjadi ibu bekerja haruus cerdas mengatur waktu dan tetap menjalani fungsi orang tua sepenuhnya. Tidak ada lho, part time mom. “Akan ada saatnya setiap ibu punya waktu istirahat nanti saat anaknya sudah besar. Jadi meski capek, ya harus enjoy. Apalagi reward nya jelas; perkembangan anak yang optimal. Mungkin belum terasa sekarang, tapi nanti semua jerih payah itu pasti akan terbayar,” tuturnya.

Hal paling menantang dari mengambil dua peran, sebagai ibu bekerja, tentunya waktu. Menurut Bunda Andika, inilah pentingnya memiliki pasangan yang dapat diajak bekerja sama. “Jangan salah pilih!” ujarnya sambil tersenyum. Peran ayah, peran daycare, sangat dibutuhkan untuk bekerjasama dengan baik, demi masa depan anak. “Semuanya harus saling support satu sama lain,” kata Bubun..

Dan buat bubun, hal terpenting adalah fokus. Jadi, saat sampai daycare, pulang kantor, ubah semua mood yang dibawa dari kantor, untuk fokus pada anak. sebab, anak butuh ibunya, dan mengatakan “Bubun capek habis bekerja,” bukan sesuatu yang oke untuk dikatakan pada anak yang rindu. Karena itu, kadang bunda Andika, mengambil waktu sejenak untuk bernafas di dalam mobil, sebelum masuk ke taman main dan bertemu D. Demi mengganti suasana hati yang dibawa dari kantor.

Semua kisah tadi bukan hanya ungkapan, namun memang terlihat nyata pada perkembangan D yang luar biasa. Kami sebagai jembatan, amat bahagia karena dapat bekerja sama dengan bubun demi mengoptimalkan tumbuh kembang D. nah, untuk itu, Bunda Andika pun berbagi beberapa tips penting agar anak dari ibu bekerja tidak kekurangan indahnya koneksi dengan orang tua:

1. Anak adalah tanggung jawab orang tua. Jadi, orang tua-lah yang seharusnya paling mengenal anak. ada kekurangan, bukan untuk di-ignorance. Ada kelebihan juga bukan sekadar penting untuk dipamerkan.

2. Optimalkan kerjasama dengan pihak daycare. Apalagi dengan adanya tabel tumbuh kembang yang dilaporkan ke orang tua, sebagai acuan apa saja yang masih perlu distimulasi.

3. Tidak perlu merasa bersalah karena bekerja. Quality time bisa dilakukan kapan saja kok, sebab apa saja bisa menjadi mainan bersama anak.

4. Jadilah visioner bahkan sejak sebelum menikah, dan utamakan keputusan memiliki anak saat sudah benar-benar siap.

5. Berusahalah jadi orang tua yang kreatif, karena dunia anak adalah dunia bermain, dan kreatifitas membuat mereka bahagia dalam proses belajar sambil bermain di usianya.

Ya, poin besarnya adalah komunikasi. Baik dengan anak demi membangun koneksi, dengan pasangan, dan dengan pihak daycare atau pengasuh. Jadi, kata siapa ibu bekerja tidak bisa mengurus anak?

Baca Juga