Artikel

Anak Cerdas Karena Jam Tidur Teratur, Mitos Atau Fakta?

Anak Cerdas Karena Jam Tidur Teratur, Mitos Atau Fakta?

Menyegerakan si kecil untuk tidur malam pada waktunya bukan hal yang gampang. Ucapan-ucapan seperti “Aku belum ngantuk,”, “aku haus mau minum”, “aku mau pipis” kerap dilontarkan si kecil untuk mengulur waktu jam tidur yang sudah disepakati. Sang ibu pun akhirnya mengalah dan membiarkan si anak bermain. Si kecil tentu belum tahu seberapa penting tidur untuk tubuh mereka. Tapi tahukah ibu, hal-hal apa yang menyebabkan kualitas jam tidur anak tidak sempurna?

Idealnya, kebutuhan tidur anak berbeda-beda sesuai usianya. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, pada usia 2 bulan - 12 bulan, bayi pada umumnya tidur 9 sampai 12 jam pada malam hari, dengan tidur siang 1 sampai 4 kali sehari. Pada usia 12 bulan hingga 3 tahun, seorang anak biasanya tidur selama 12 hingga 13 jam seharinya, dengan rata-rata tidur siang satu kali saja dalam sehari pada usia 18 bulan. Pada usia di atas 4 tahun, seorang anak dapat tidak membutuhkan tidur siang lagi.

Ibarat ponsel lowbatt yang perlu di charge untuk menghidupkannya kembali, tubuh si kecil yang lelah beraktivitas seperti main, berlari-lari, dan belajar, butuh pemulihan dengan tidur. Beberapa penelitian menyebut, tidur anak berdampak pada tingkat emosi, daya tahan tubuh dan tingkat kecerdasan.

Dr. Rini Sekartini SpAK, dari Ikatan Dokter Anak Indonesia menguraikan dampak yang timbul dari jam tidur anak yang tidak teratur. Secara emosional, bayi dan batita kurang tidur biasanya rewel, sensitif dan cengeng. Pengendalian dirinya buruk dan menjadi gampang marah. Bisa jadi ini yang menyebabkan si kecil bereaksi berlebih ketika hendak ditinggal kerja oleh sang ibu.

Dampak kognitif dan gerak si kecil yang terganggu tidurnya akan sulit berkonsentrasi. Keterampilannya kurang baik, sehingga motorik kasarnya menjadi lamban atau justru berlebihan, sedangkan gerak halusnya kurang cermat. Sebuah penelitian oleh National Sleep Foundation (Amerika Serikat) menunjukkan, anak-anak yang cukup tidur (lebih 8 jam sehari) mempunyai prestasi akademis yang lebih baik dibanding yang kurang tidur.

Pola tidur anak di malam hari secara langsung dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan orang tua mereka sendiri. Jika anak-anak di luar negeri sudah terbiasa tidur di kamar sendiri, beda halnya dengan anak-anak di Indonesia. Kebiasaan tidur bersama dengan berbagi tempat tidur dengan orangtua (co-sleeping) masih menjadi kultur di Indonesia yang tanpa disadari dapat mengurangi kualitas tidur bayi dan batita.

Contohnya, rutinis orang tua seperti menonton tv atau membaca buku di kamar saat malam hari, tentu menggangu kualitas jam tidur anak itu sendiri. Tidur si anak akan terganggu dengan suara-suara dan cahaya. Maka jangan heran ketika aturan jam tidur malam anak kerap gagal. Jika ini dibiarkan tentu tak baik untuk pertumbuhan emosi dan tingkat kecerdasan buah hati Anda. Maka jangan ragu untuk membiasakan anak tidur terpisah dari orang tuanya sesegera mungkin.

Baca Juga